Masih
tak percaya pada saat itu dengan mudahnya kau mengatakan “kita putus”. Berharap
hanya mimpi namun faktanya itu nyata. Shiiitt… dengan yakinnya bibirku berkata
tak apa tapi celakanya hatiku terasa ada apa-apanya, hingga pipiku basah karena
ulah air yang secara tak sengaja keluar dari mataku.
Kecewa
yang kurasa. Setelah sekian lama kau meyakinkanku hingga aku yakin padamu. Pada
saat itu kau berjanji akan menggenggam tanganku namun pada saat itu pula kau
melepasku. Entah apa yang ada difikiranmu, aku tak mengerti dengan tingkahmu.
Apa kau yang jahat? Atau aku yang terlalu bodoh? Sudahlah…
Hari
demi hari telah berlalu namun ingatanku tak bisa kuhentikan untuk memikirkan
semua bayangmu, entah apa yang kau
lakukan sampai-sampai aku sulit untuk melupakan segala tentangmu. Fikiranku tak
lagi waras sampai dalam hati aku menuduhmu memakai ilmu sihir entah semacam
pelet atau apalah…hahaha lupakan saja. Ya, aku sudah tak waras.
Sebelum
semua berlalu aku tak membayangkan sedikit pun kalau hubungan kita akan
berakhir. Aku membayangkan hubungan kita
akan bertahan hingga menjadi legal. Kau yang akan menjadi imamku, melewati
hari-hari dengan penuh cinta, menyelesaikan masalah bersama, merawat anak-anak
kita hingga tumbuh dewasa, juga melewati masa tua bersama dan pada akhirnya
mautlah yang memisahkan kita. Ya, aku kira aku sudah tak waras.
Memikirkan
yang tak sepantasnya untuk difikirkan
adalah kebiasaanku. Khayalanku sudah kelewatan. Ya, sekali lagi aku
memang sudah tak waras. Maafkan aku yang belum bisa menghapus; rasa, perih,
ini. Bukan salahmu ini salahku.
dari gadis tak
waras
yang hatinya masih terluka.
yang tak tahu diri,
yang masih
mencintaimu.
0 komentar:
Posting Komentar